Kamis, 28 Maret 2019

Laporan (percobaan 4) Reaksi-Reaksi Hidrokarbon



VII. Data Pengamatan
7.1 HCl dalam karbon tetraklorida    
No.
Perlakuan
Hasil pengamatan
1.       
Dimasukan kedalam dua tabung kedua tabung diisi dengan  1ml bensin + 15 tetes HCl.
Tabung yang 1 disinari dengan matahari dan yang 1 lagi diletakkan ditempat yang gelap.
Tabung yang disinari dengan matahari, terdapat seperti minyak, dengan warna kuning jernih dan timbul asap saat ditiup.

Tabung yang ditempat gelap yaitu mempunyai warna kuning sedikit pekat dan saat ditiup juga timbul asap.

2.
Dimasukkan kedalam tabung reaksi 1 ml benzena + 15 tetes HCl pekat, diguncangkan
Campurannya larut namun sedikit mengental, dan pada saat penutupnya dibuka terdapat seperti asap yang keluar dari dalam tabung
3.
Ditambahkan 1 ml benzena dan ditambahkan 1 ml HCl, kemudian digoncangkan
Terdapat 2 fasa, yang atas berwarna bening dan yang bawah berwarna sedikit keruh.

7. 2 Klorinasi

Perlakuan
Hasil Pengamatan
1.
Dimasukkan kedalam tabung reaksi 1 ml benzena + 3 tetes HCl kemudian dipanaskan
Campuran larutan berwarna kuning, pada saat dipanaskan terdapat 2 lapisan
2.
Diamsukkaan kedam tabung reaksi lain serbuk besi + 1 ml benzena + 3 tetes HCl kemudian dipanaskan
Warna pada larutan berwarna sedikit kuning dan terdapat gelembung, pada saat dipanaskan warna kuning menghilang dan pada serbuk besi banyak terdapat gelembung-gelembung.

7.3 Larutan kalium permanganat
No.
Perlakuan
Hasil pengamatan
1.
Ditambahkan 1 ml kalium + 5 tetes benzena, kemudian digoncangkan
Terdapat gemlembung dan warnanya ungu betadine
2.
Ditambahkan 1ml benzena + 2 ml kalium permanganat, kemudian digoncangkan
Larutannya tidak bercampur, terdapat 2 lapisan yang atas berwarna bening dan yang bawah berwarna ungu, sehingga tidak terjadi oksidator karena berwarna ungu pada larutan

7.4 Asam sulfat pekat
No.
Perlakuan
Hasil pengamatan
1.
Dimasukkan dalam tabung 2 ml asam sulfat + 10 tetes benzena, kemudian diguncang
Sebelum diguncang warnya bening, dan setelah diguncang warnanya berubah menjadi kuning-bening-kuning dan berbusa. Setelah didiamkan terbentuk 2 fasa.
2.
Dimasukkan 2 ml H2SO4 + 10 tetes n-heksana, kemudian diguncang.
Warnanya bening dan setelah didiamkan terdapat 2 fasa

7.5 Asam nitrat
No.
Perlakuan
Hasil pengamatan
1.
Ditambahkan 0,5 ml benzena + 4 ml asam nitrat pekat
Warnanya bening
2.
Ditambahkan 1 butir batu didih dan didihkan larutan tersebut
Warnyanya menjadi kuning jernih
3.
Dibandingkan bau yang didapat dari larutan dengan bau nitrobenzena
Baunya sama yaitu seperti bau semir sepatu

7.6 Bahan tak dikenal
No.
Perlakuan
Hasil pengamatan
1.
Ditambahkan 2 ml zat x + 2 ml air,kemudian digoncangkan
Terdapaat 2 fasa disebabkan air senyawa polar, warnanya bening
2.
Ditambahkan 2 ml zat x + H2SO4 2ml, digoncangkan
Terdapat 2 fasa, lapisan bawah berwarna bening sedikit keruh dan atas berwarna bening
3.
Ditambahkan 2 ml zat x + 2 ml kloroform, digoncangkan
Terdapat cincin yang memisahkan larutan dan warnanya bening . Hal ini menandakan bahwa zat x adalah benzena

VIII. Pembahasan
Alkana, alkena dan alkuna merupakan bagian dari hidrokarbon yang pada dasarnya senyawa-senyawanya hanya tersusun atas atom karbon hidrogen. Dalam kehidupan sehari-hari senyawa hidrogen sering kita gunakan untuk memasak ataupun digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor dan juga sebagai bahan bakar baik berupa gas, bensin ataupun minyak tanah. Pada kehidupan sehari-hari senyawa hidrokarbon biasanya terjadi pembakaran sempurna maupun tidak sempurna. Suatu hidrokarbon jika direaksikan menggunakan katalis alumunium klorida akan menyebabkan perubahan pada senyawa hidrokarbon yang dari rantai lurus menjadi bercabang(isomerisasi). Pada reaksi hidrokarbon tidak hanya bisa terjadi reaksi isomerisasi tetapi juga dapat terjadi khlorinasi dan brominasi (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/01/21/reaksi-reaksi-hidrokarbon/).

7.1 HCl dalam karbon tetraklorida
Pada percobaan ini akan dilakukan 3 pengujian,  pengujian pertama terhadap campuran alkana (bensin) dengan HCl yang akan diletakkan ditempat terang dan gelap. Sebanyak 1 ml bensin dimasukkan kedalam 2 tabung reaksi yang berbeda kemudian ditambahkan dengan 15 tetes larutan HCl pada masing-masing tabung. Pada saam campuran dua senyawa tersebut larutan berwarna kuning. Kemudian salah satu tambung reaksi yang berisi campuran terbebut ditempatkan ditempat terang atau tersinari olrh cahaya sedangkan satu tabung reaksi lainnya diletakkan di tempat gelap kurang lebih selama 10 menit. Hasil yang didapat pada larutan yang diletakkan ditempat terang larutan yang awalnya berwarna kuning berubah menjadi kuning pudar sedangkan pada larutan yang diletakkan ditempat yang gelap warna larutannya berubah menjadi kuning pekat. Dan pada saat kedua tabung reaksi tersebut ditiup mengeluarkan asap yang berarti menandakan adanya hidrogen klorida. Kemudian pada larutan tadi diuji apakah bersifat basa atau asam dengan menggunakan kertas lakmus. Pada saat kertas lakmus dimasukkan ke larutan yang ditempatkan ditempat terang kertas lakmus berubah dari biru menjadi merah dengan cepat. Sedangkan pada larutan yang diletakkan ditempat gelap kertas lakmus juga berubah warna menjadi merah akan tetapi perubahan warna dari kertas lakmus lama. Perubahan kertas lakmus yang cepat pada larutan yang ditempat terang karena adanya pengaruh cahaya yang mempercepat reaksi.
        Pada pengujian kedua yaitu pencampuran terhadap  1 ml benzena dengan 15 tetes hcl. Campuran larutan tersebut dimasukkan kedalam tabung reaksi dan kemuadian dikocok. Setelah dikocok pada larutan terdapat 2 fasa, benzen dan HCl tidak dpat bercampur karena benzen merupakan larutan nonpolar sedangkan HCl larutan polar. Pada dua fasa yang terdapat pada larutan dimana pada bagian atasnya adalah benzen dan pada bagian bawahnya adalah HCl ini dikarenakan kita ketahui bahwa massa jenis dari benzena lebih kecil dibanding HCl.
       Pengujian ketika kedalam tabung reaksi ditamahkan 1 ml benzena dan 1 ml HCl. Pengujian ini hampir sama dengan pengujian kedua hanya saja terdapat perbedaan pada volume HCl yang digunakan. Pada saat campuran ini dikocok juga terdapat dua fasa dimana pada bagian atasnya larutan berwarna bening sedangkan pada bagian bawah larutan sedikit keruh.

7.2 Klorinasi
      Pada percobaan klorinasi ini kami melakukan dua kali pengujian di dua tabung reaksi berbeda dan pengujian ini dilakukan dilemari asam akan tetapi dikarenakan lemari asam yang terdapat dilaboratorium tidak dapat digunakan percobaan ini kami lakukan diluar ruangan. Pada tabung reaksi pertama dimasukkan 1 ml larutan benzena dan ditambahkan HCl sebanyak 3 tetes, pada saat kedua larutan ini dicampurkan warna larutan berubah menjadi kuning akan tetapi warna larutannya hanya terdapat pada bagian atas larutan saja. Kemudian campuran dari larutan tersebut dipanaskan, setelah proses pemanasan larutan berubah menjadi terdapat 2 lapisan dimana sebelum proses pemanasan larutan yang berwarna bening terdapat dibawah dan setelah pemanasan larutan bening terdapat dibagian atas, begitu juga pada lapisan yang berwarna kuning yang sebelum pemanasan larutan yang berwarna kuning dibagian atas setelah pemanasan larutan berwarna kuning dibawah.
     Pada tabung reaksi kedua serbuk besi dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang kemudian di tambahkan 1 ml benzena fungsi penambahan benzena disini untuk menjatuhkan serbuk-serbuk besi yang terdapat atau yang menempel pada dinding tabung. Kemudian ditambahkan larutan HCl sebanyak 3 tetes, setelah penambahan 3 sampel-sampel tersebut larutan diguncang yang menyebabkan terdapatnya gelembung pada larutan dan warnanya sedikit kuning. Kemudian larutan tersebut dilakukan pemanasan yang menyebabkan warna kuning pada larutan menghilang dengan cepat da dibesi terdapat banyak gelembung-gelembung yang menandakan adanya hidrogen klorida yang dibebaskan.

7.3 Larutan kalium permanganat
      Pada percobaan ini digunakan 2 tabung reaksi dengan campuran yang berbeda-beda. Pada tabung reaksi pertama dicampurkan 1 ml larutan kalium permanganat 0,5 % yang ditambahkan dengan  5 tetes alkana (alkana yang digunakan yaitu bensin). Kemudian campuran dari larutan-larutan tersenut kita kocok kurang lebih selama 2 menit. Setelah pengocokkan pada larutan terdapat gelembung-gelembung dan yang awalnya larutan berwarna ungu (warna dari kalium permanganat) berubah menjadi warna betadine. Sedangkan pada tabung reaksi kedua dicampurkan larutan benzena sebanyak 1 ml dan 2 ml larutan kalium permanganat. Pada campuran kedua larutan ini tidak bercampur atau terdapat 2 fasa dimana pada bagian atas larutan berwarna bening dan pada bagian bawahnya berwarna ungu atau larutan kalium permanganat.

7.4 Asam sulfat pekat
       Pada percobaan ini akan dilakukan tes terhadap asam sulfat yang akan direaksikan dengan suatu senyawa hidrokarbon (alkan dan alkena). Pertama akan dilakukan untuk pencampuran asam sulfat pekat dengan senyawa hidrokarbon alkana, alkana yang kami gunakan disini adalah benzena. Diamsukkan 2 ml asam sulfat pekat dan 10 tetes benzena kedalam tabung reaksi kemudian digoncang. Pada saat penambahan asam sulfat dengan benzena larutan masih berwarna bening setelah digoncang larutan menjadi keruh dan terdapat busa. Pada saat larutan didiamkan terdapat 3 lapisan pada campuran asam sulfat dan benzena diamana pada lapisan atas larutan tersebut berwarna kuning, bagian tengah bening dan pada bagian banwahnya berwarna kuning. Kedua akan dilakukan untuk pencampuran asam sulfat pekan dengan senyawa hidrokarbon alkena, alkena yang kami gunakan disini adalah n- heksana. Dimasukkan 2 ml asam sulfat pekat dengan ditambahkan 10 tetes n-heksana kedalam tabung reaksi kemudian dikocok. Setelah dikocok larutan menunjukkan adanya 2 fasa yang terdapat pada campuran asam asetat dan n-heksana dan pada campuran larutan terdapat busa-busa.

7.5 Asam Nitrat
      Pada percobaan ini dilakukan pengujian terhadap campuran asam nitrat dan benzena yang bau dari campuran ini akan dibandingkan dengan bau dari nitrobenzena. 0,5 ml benzena dimasukkan kedalam tabung reaksi dan kemudian ditambahkan 4 ml larutan asam nitrat pekat, pada penambahan asam nitrat dengan benzen larutan masih berwarna bening. Kemudian larutan tersebut dipanaskan dan sebelumnya ditambahkan satu butir batu didih kedalam larutan, fungsi penambahan batu didih ini agar pada saat penamasan panasnya menyebar secara merata. Setelah larutan dididikan terjadi perubahan warna pada larutan yaitu berubah menjadi warna kuning jernih dan bau yang ditimbukan pada larutan tersebut seperti bau semir sepatu. Pada saat dibandingkan bau yang terdapat pada campuran asam nitrat dan benzena dengan bau dari nitrobenzena baunya sama-sama seperti semir sepatu.

7.6 Bahan tak dikenal 
        Pada percobaan ini kami akan mengidentifikasi suatu senyawa hidrokarbon yang tak dikenal dengan tiga kali pengujian atau dengan masing-masing penambahan air, H2SO4 , dan klorofom. Pada tabung pertama dimasukkan senyawa yang tak dikenal kemudian ditambahkan 2 ml air, kemudian larutan digoncang sehingga terdapat 2 fasa pada larutan senyawa dan air ini dikarenakan terdapat perbedaan kepolaran terhadap kedua larutan tersebut. Ke tabung reaksi kedua dimasukkan senyawa yang tidak dikenal dan ditambahkan 2 ml H2SO4, kemudian larutan digoncang sehingga terdapat 2 fasa pada campuran larutan tersebut dimana pada lapisan atasnya larutan berwarna bening dan pada lapisan bawahnya larutan menjadi keruh. Dan yang terakhir kedalam tabung reaksi dimasukkan senyawa yang tidak dikenal yang ditambahkan 2 ml larutan klorofom, kemudian larutan diguncangkan sehingga pada larutan terbentuk cincin yang memisahkan kedua campuran larutan tersebut. Dari tes-tes yang telah kita lakukan terhadap senyawa yang tidak dikenal tersebut dengan menggunakan berbagai campuran seperti air, H2SO4 , dan klorofom dapat kita simpulkan bahwa larutan yang tidak dikenal tersebut merupakan senyawa benzena ini dikarenakan ketika benzena dicampurkan dengan air ia tidak akan bercampur karena benzena merupakan senyawa tidak dapat larut dalam senyawa polar seperti air.

IX. Pertanyaan Pasca
  1. Pada uji HCl dalam tetraklorida apa yang menyebabkan pada tabung reaksi 1 lebih cepat mengubah kertas lakmus biru menjadi merah dibandingkan tabung reaksi kedua?
  2.  Pada percobaan asam nitrat digunakan batu didih yang dimasukkan kedamam campuran larutan, apa fungsi dari batu didih tersebut?
  3. Mengapa pada uji kalium permanganat saat ditambahkan benzena tidak dapat bercampur?

X. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah kami lakukan maka dapat disimpulkan bahwa:
  1.  Hidrokarbon alifatik berasal dari minyak bumi sedangkan hidrokarbon aromatik dari batu bara. Pada hidrokarbon alifatik dan aromatik memiliki tiga sifat umumnya yaitu tidak larut dalam air, lebih ringan dibanding air, dan mudah terbakar di udara.
  2.  Senyawa alifatik jenuh tidak akan bereaksi (sulit bereaksi) jika direaksikan baik dengan halogen, asam sulfat, asam nitrat dan alkohol karena sifatnya yang jenuh dan tidak lagi bisa mengalami reaksi adisi ataupun subsitusi.
  3. Pada senyawa aromatik seperti benzena dapat direaksikan dengan asam nitrat, asam sulfat dan halogen karena pada reaksinya terjadi ikatan rangkap yang beresonansi.

XI. Daftar Pustaka
Fessenden, Ralph J. 1997. Dasar-dasar Kimia Organik. Jakarta: Bina Aksara
Sumardjo. 2009. Oksidasi 3-(3,4 dimetoksi) propanol menggunakan oksidator pinmidium klorokromat (PCC). Jurnal kimia sains & aplikasi. Vol 2 No 3.
Tim Kimia Organik I. 2016. Penuntun Praktikum Kimia Organik I. Jambi: Universitas Jambi
Wilbraham, A. C. 1992. Pengantar Kimia Organik dan Hayati. ITB. Bandung

XII. Lampiran
larutan kalium permanganat 
bereaksi dengan alkana

larutan kalium permanganat yang 
tidak bereaksi dengan benzena

setelah asam nitrat dipanaskan
 lalu dituang kedalam es

proses pemanasan larutan 
pada uji asam nitrat

Jurnal (percobaan 6) Reaksi-Reaksi Alkohol dan Fenol



PERCOBAAN 6

I.         Judul Praktikum
“Reaksi-Reaksi Alkohol dan Fenol”

II.      Hari / Tanggal Praktikum
Sabtu / 30 Maret 2019

III.   Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu:
a.    Dapat mengetahui perbedaan sifat-sifat antara alkohol dan fenol
b.    Dapat mengetahui jenis-jenis reaksi dan pereaksi yang digunakan untuk membedakan anatara senyawa-senyawa alkohol dan fenol.
c.    Dapat mengetahui azas-azas dari reaksi tersebut pada b.

IV.   Landasan Teori 
          Alkohol dapat mengalami beberapa reaksi yang dapat menyebabkan berubahnya alkohol menjadi turunannya. Pertama jika suatu alkohol mengalami reaksi subsitusi oleh senyawa-senyawa halogen maka alkohol dapat berubah menjadi alkil halida. Kedua jika alkohol mengalami reaksi oksidasi maka alkohol dapat berubah menjadi bermacam turunannya seperti senyawa aldehid, keton, eter, ester dan senyawa asam karboksilat. Ketiga alkohol dapat membentuk suatu garam alkoksida jika suatu alkohol direaksikan dengan logam-logam alkali. Dan juga suatu senyawa alkohol dapat membentuk senyawa tidak jenuh pada saat alkohol mengalami reaksi dehidrasi. Senyawa alkohon dan fenol memiliki beberapa sifat fisik dan kimia diantaranya: (1)Titik didih, senyawa alkohol dan fenol jika rantai hidrokarbonnya semakin panjang dapat mempengaruhi titik didihnya dimana menyebabkan titik didih alkohol dan fenol semakin tinggi yang disebabkan karena berat dari molekulnya juga semakin tinngi. (2)Ikatan hidrogen, molekul alkohol yang memiliki atom hidrogen bermuatan positif dapat menyebabkan interaksi yang kuat dengan sutu atom oksigen yang memiliki sifat elektronegatif. (3) Efek Gaya Van der Waals, jika berat molekul alkohol bertambah maka interaksi dipol-dipol senyawa alkohol juga akan makin meningkat. (4) Kelarutan dalam air, jika rantai hidrokarbon semakin panjang maka akan menyebabkan semakin sulit suatu alkohol larut dalam air. (5) Sifat keasaman atau kebasaan alkohol, seperti halnya dengan air alkohol dapat larut baik dalam suasana asam maupun basa. Berikut ini terdapat tabel nilai keasaman beberapa alkohol:
      Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa jika rantai hidrokarbon pada alkohol semakin panjang maka sifat asam alkohol akan semakin lemah. Namun pada fenol yang memiliki pKa 10 sifat asamnya lebih kuat dibandingkan sikloheksanol yang memiliki pKa 18 (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/03/28/reaksi-alkohol-dan-fenol298/).

      Golongan senyawa alkohol dan femol memiliki kelarutan yang besar didalam air. Hal ini dikarenalan gugus hidroksil yang terdapat pada senyawa alkohol dan fenol dapat menjalin terjadinya suatu ikatan hidrogen antara molekul-molekulnya. Suatu fenol yang memiliki tingkat keasaman yang lebih dibanding alkohol dapat mengalami perubahan menjadi garam natrium apabila direaksikan dengan suatu basa (NaOH). Gugus hidroksil yang terdapat pada alkohol dan fenol dapat disingkirkan dengan penambahanan natrium yang akan menghasilkan alkoksida. Pada umumnya alkohol dapat dibagu menjadi 3 yaitu alkohol primer, sekunder dan tersier. Ada beberapa pengujian yang digunakan untuk membedakan dari ketiga golongan alkohol tersebut. Pada Pengujian lucas didasarkan pada perbedaan kecepatan dari alkohol primer, skunder dan tersier untuk diubah menjadi klorida. Pada pengujian lucas ini reagent yang digunakan merupakan larutan seng klorida dalam HCl pekat. Gugus hidroksil yang terdapat di fenol akan menyebabkan cicin benzen reaktif terhadap subsitusi elektrofilik, sehingga pada reaksi ini akan berlangsung pada keadaan lemah. Fenol dapat berubah menjadi 2,4,6-tribromofenol bila direaksikan dengan air brom yang memiliki kelarutan yang sangat rendah bila didalam air (Tim kimia organik I, 2016).

       Metil alkohol merupakan bagian dari atau kelompok dari alkohol primer. Pada penggolongan alkohol ini hampir sama dengan penggolongan karbokation. Akan tetapi jika pada fenol, senyawa fenol memiliki gugus hidroksi yang terika langsung ke benzena atau cincin benzonoid. Senyawa organik fenol merupakan bahan kimia yang digunkan dalam industri yang sangat penting, fenol merupakan senyawa suatu penyusun dimana pada gugus hidroksilnya berinteraksi kuat mempengaruhi reaktivitas masing-masing. Interaksi yang terjadi disini menyebabkan adanya sifat dan kegunaan baru bagi senyawa fenol. Seperti halnya air, senyawa organik alkohol dan fenol merupakan asam lemah. Gugus hidroksil pada senyawa ini dapat bertindak sebagai pendonor peoton dan disosiasi pada alohol dan fenol terjadi mirip seperti air. Dan pada alkohol basa konjugasinya adalah ion alkoksi (contohnya ion metoksida dari metanol, ion etoksida dari etanol dan sebagainya) (Fessenden, 1997).

        Alkoksida merupakan basa konjugasi dari alkohol yang merupakan basa kuat seperti halnya ion hidroksida. Senyawa organik alkohol ini sering digunakan sebgai basa kuat dalam kimia organik dikarenakan alkohol adalah senyawa ionik. Ion ini dapat dibuat melalui sebuah reaksi senyawa alkohol dengan logam natrium atau kalium dan pada reaksi ini terjadi secar reversibel atau yang kita ketahui tidak dapat balik  menghasilkan alkoksida logam yang sering kali dapat dilakukan solvasi berupa padatan putih. Pada pengolahan senyawa alkohol dengan natrium hidroksida tidak dapat mengonversinya menjadi hidroksida sehingga pada reaksi ini reaksinya akan berjalan keberlawanan arah. Namum pada senyawa fenol dapat dikonversi menjadi ion fenoksida dengan cara yang sama (Vogel, 1999).

       Salah satu contoh dari alkohol adalah etanol, yaitu senyawa memabukkan yang biasanya terdapat di anggur atau bir. Etanol merupakan slah satu senyawa organik yang disebut alkohol yang terdapat dialam. Alkohol alami yang terdapat dibunga mawar yaitu 2-feniletanol yang menyebabkan bau memabukkan dari bunga tersebut. Gugus hiroksil terdapat dalam banyak molekul yang penting secara biologis. Terdapat beberapa jenuh yang penting dalam suatu metabolisme seperti 3-metil 2-butena 1-ol, 3-metil 3-bitena 1-ol. Dibandingkan dengan senyawa alkoho fenol kurang terlibat dalam proses metabolisme. Namun, terdapat 3 alkohol fenolik yang dapat membentuk suatu blok pembangunan dasar ligan yaitu suatu zat polimer rumit. Dimana zat polimer ini bersama-sama dengan selulosa membentuk bagian-bagian pada pohon. Dan terdapat beberapa fenolik yang berbahaya dan harus dihindarkan seperti urushiol yaitu suatu bahan alergan aktif dlam racun tumbuhan ivy dan oak (Hari, 2015).

V.      Alat dan Bahan
5.1     Alat
·      Tabung reaksi
·      Pipet tetes
5.2     Bahan
·      Etanol
·      2-propanol
·      Sek-butil alkohol
·      Sikloheksanol
·      Fenol
·      Kolesterol
·      2-naftol
·      Indikator pp
·      Aseton
·      Asam sulfat pekat
·      Asam asetat glasial
·      Larutan FeCl3 10%
·      1-propanol
·      N-butil alkohol
·      Ter-butil alkohol
·      Etilen glikol
·      Resorsinol
·      O-kresol
·      Larutan NaOH 10%
·      Reagent Lucas
·      Reagen Bordwell-Willman
·      Larutan brom dalam air
·      Trifenil karbinol

VI.   Prosedur kerja
6.1     Kelarutan
Kedalam enam tabung reaksi masukkan 1/2  ml atau 0,2-0,5 gr dari masing-masing senyawa berikut: etanol, n-butil alkohol, ter-butil alkohol, sikloheksanol, etilen glikol dan fenol (hati-hati): fenol jangan mengenai kulit. Bila mengenai kulit akan terbakar oleh fenol, bila terjadi cuci segera dengan air. Tambahkan 2 ml ke dalam tiap tabung, aduk dan amati kemudian catat hasil pengamatan.

6.2     Reaksi dengan Alkali
Kedalam empat tabung reaksi yang berlainan masukkan 1/2  ml atau 0,2-0,5 gr dari masing-masing senyawa berikut: n-butil, alkohol, sikloheksanol, fenol dan 2-naftol. Tambahkan 5 ml larutan NaOH 10% kedalam tiap tabung, dikocok dan diamati serta catat hasilnya.

6.3     Reaksi dengan Natrium
Tempatkan 2 ml dari masing-masing senyawa berikut: dalam tabung reaksi kering berlainan 1-propanol, 2-propanol dan o-kresnol (bila o-kresnol berbentuk kristal, panaskan sedikit agar melebur).  Tambahkan sepotong kecil logam natrium ke dalam larutan yang ada dalam tabung reaksi, catat hasilnya.  Tambahkan ke dalam larutan yang diperoleh beberapa tetes indikator phenolftalen  dan catat hasilnya. Hati-hati:  Jangan buang isi tabung yang berisi natrium yang belum bereaksi ke dalam bak air Natrium bereaksi eksplosif dengan air. Tambahkan etanol secukupnya untuk menghilangkan semua natrium yang belum bereaksi kemudian Buanglah.

6.4 Pengujian Lucas
Masukkan 2 ml reagent *)lucas ke dalam 4 tabung reaksi. Tambahkan kira-kira 5 tetes alkohol yang akan diuji, kocok dan catatlah waktu yang diperlukan oleh campuran sehingga menjadi keruh atau memisah menjadi dua lapisan. Ujilah : 1-butanol,  2-butanol,  sikloheksanol, ter-butil alkohol dan catat hasilnya.
*) Reagent Lucas : Larutkan 340 gr ZnCl2 kering dalam 230 ml HCl pekat yang dingin sambil didinginkan. Campuran ini menghasilkan 350 ml reagent.

6.5 Oksidasi dengan Asam Kromat (Pengujian Bordwell-Wellman)
Masukkan 1 ml aseton ke dalam 5 tabung reaksi yang berbeda.  Tiap-tiap tabung tambahkan 1 tetes cairan alkohol atau 10 mg kristal alkohol yang hendak diuji dan gobeanglah hingga larutan menjadi jernih. Lalu tambahkan 1 tetes reagent bordwell-wellman*  sambil sambil digoncang ujilah alkohol berikut: 2-butanol, ter-butil alkohol, kolesterol dan trifenil karbinol.
*Reagent Bordwell-Wellman : Larutan 25 gr anhidrat kromatid dalam 25 asam sulfat pekat dan hati-hati encerkan dengan 75 ml air suling.

6.6 Reaksi Fenol dan Brom
Ke dalam larutan 0,1 gr  final di dalam tiga ml air tambahkan air brom sambil diguncang sampai warna kuning tidak berubah lagi, amatilah.

6.7 Reaksi Fenol dengan Besi (III) Klorida
Tiga buah tabung reaksi yang berbeda dilarutkan 1 atau 2 kristal atau 1-2 tetes senyawa yang akan diuji dalam 5 ml air. Ke dalam tiap tabung reaksi teteskan 1-2 tetes Besi (III)  klorida aduk dan amatilah hasilnya. Ujilah fenol,  resorsinol dan 2-propanol kemudian catat hasilnya.

Link Vidio
1.   Pada uji Lucas di vidio tersebut apa yang terjadi saat reagent lucas dicampurkan dengan alkohol sekunder?
2.  Pada uji Lucas di vidio tersebut apa yang harus dilakukan untuk alkohol primer bereaksi dengan pereaksi Lucas?
3.    Pada vidio tersebut alkohol dapat di identifikasi menggunakan tes apa saja?