Jumat, 22 Maret 2019

Laporan (percobaan 2) Kalibrasi Termometer dan Penentuan Titik Leleh



VII. Data Pengamatan
7.1 Kalibrasi Termometer
No.
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1.
Dibuat campuran bubuk es dan air hingga 2/5 bagian volume terisi
Air dan es tercampur, es sedikit mencair
2.
Dimasukkan termometer hingga ujungnya menyentuh campuran es + air dan mulut labu erlenmeyer disumbat
Didapatkan suhu 0oC
3.
Termometer diangkat dan diulang prosedur a-c

4.
Dirancang alat dengan mengisi 2/5 bagian erlenmeyer dengan aquades

5.
Termometer dimasukkan hingga tepat 1 cm diatas permukaan
Didapatkan suhu 23OC
6.
Dilakukan pemanasan dan dicatat suhu
Didapatkan suhu 100oC

7.2 Penentuan Titik Leleh
·         Penentuan titik leleh zat murni
No.
Sampel
Temperatur Zat Murni (oC)
Manual
MPA
1.
Naftalen
74oC - 80oC
74oC – 79,9oC
2.
Glukosa
138oC - 142oC
140oC – 146oC
3.
Alpha-Naftol
94oC - 96oC
96oC - 98oC
4.
Asam Benzoat
117oC - 121oC
119oC - 121oC
5.
Maltosa
98oC - 100oC
100oC - 102oC

  • Penentuan titik leleh zat campuran
No.
Zat Campuran
Perbandingan Temperatur Zat Campuran (oC)
1:0
1:0,5
1:1
1:2
1.
Naftalen – Glukosa
74 – 79,9
90 – 128
140 – 162
120 – 160
2.
Glukosa – Alphanaftol
140 – 146
150 – 165
145 – 168
145 – 170
3.
Alphanaftol – Asam Benzoat
96 - 98
160 – 175
148 – 170
119 – 165
4.
Asam Benzoat – Maltosa
119 - 121
148 - 169
160 – 180
100 – 140
5.
Maltosa - Naftalen
100 - 102
110 - 155
145 - 175
130 - 152

VIII. Pembahasan
        Kita ketahui termometer yang kita kenal dapat mengukur suhu baik pada keadaan panas maupun dingin pada suatu padatan, cairan bahkan uap. Sebelum termometer digunakan untuk mengukur suhu harus kita pastikan termometer dapat berfungsi dengan baik dan suhu yang ditunjukkan benar akurat. Salah satu cara agar termometer yang akan kita gunakan akurat yaitu dengan mengkalibrasi termometer. Titik leleh suatu zat padat yaitu keadaan dimana suatu zat padat mengalami perubahan fasa dari suatu padatan menjadi cairan atau bahkan menjadi uap pada temperatur tertentu (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/02/26/70/).

8.1 Kalibrasi Termometer
    Pada percobaan ini dilakukan pengujuan ketepatan dan kemampuan termometer. Dimana termometer ini diuji pada atas bawah dan batas atasnya. Batas atasnya merupakan penentuan suhu air yang dipanaskan atau air mendidih yang mencapai 100oC. Sedangkan penentuan batas bawahnya merupakan penentuan suhu air dan es yang dimasukkan kedalam wadah dimana suhunya 0oC. Pada saat es dan air dicampurkan maka es sedikit mencair, ini terjadi karena adanya perbedaan kelarutan antara iar dan es. Pertama dilakukan perlakuan untuk menguji batas bawah dari termometer dengan menggunakan air dan es. Campuran air dan es dimasukkan kedalam erlenmeyer yang ujung mulut dari erlenmeyer tersenut disumbat menggunakan sterofon yang dilengkapi dengan termometer. Tujuan dari disumbatnya ujung mulut erlenmeyer berguna agar suhu dari udara luar tidak dapat mempengaruhi sampel yang akan diukur suhunya. Pada saat pengukuran suhu air perlahan-lahan menurun hingga akhirnya mencapai titik 0. Kemudian pengukuran berikutnya untuk menentukan bats atas dari termometer. Pada pengukuran batas atas ini air aquades dimasukkan kedalam erlenmeyer, ketika hanya aquades biasatermometer menunjukkan angka 23oC. Kemudian air didalam erlenmeyer di panaskan hingga mendidih lalu diukur suhunya, pada saat pengukuran suhu termometer menunjukkan batas atasnya yaitu sebesar 100oC. Berarti disini dapat disimpulkan bahwa termometer yang digunakan merupakan termometer bagus dan layak untuk digunakan.

8.2 Penentuan Titik Leleh
       Pada percobaan ini dilakukan untuk menentukan titik leleh dari beberapa jenis zat murni dan juga pengukuran titik leleh terhadap zat murni yang dicampurkan dengan zat lain menggunakan perbandingan 1:0 ; 1:0,5 ; 1:1 ; 1:2. Zat-zat yang akan digunakan pada penentuan titik leleh ini yaitu : naftalen, glukosa, alpa-naftol, asam benzoat dan maltosa. Untuk pengukuran sahu pada zat murni ini kami menggunakan dua metode pengukuran yaitu pengukura secara manual dan menggunakan MPA (melting point apparatus).
      Percobaan pertama yang akan kami lakukan yaitu mengukur titik leleh dari samper zat murni. Pada pengukuran titik leleh zat murni ini sampel yang akan di ukur titik lelehnya dimasukkan kedalam pipa kapiler kemudian pipa kapiler diikat dengan termometer menggunakan benang. Setelah diikat termometer beserta pipa kapiler dimasukkan kedalam erlenmeyer yang berisi air/minyak yang sedang dipanaskan kemudian diamati (cara ini dikenal dengan pengukuran tiitk leleh secara manual). Sedangkan jika menggunakan MPA sampel zat juga dimasukkan kedalam pipa kapiler lalu pipa kapiler beserta termometer dimasukkan kedalam alat melting point apparatus. Pada sampel zat pertama yaitu naftalen ketika diukur titik lelehnya secara manual sebesar 74oC - 80oC sedangkan jika diukur menggunakan MPA sebesar 74oC – 79,9oC. Artinya disini sampel mulai melelh pada saat suhu 74oC dan meleleh sempurna pada suhu 80oC. Sampel kedua yaitu glukosa secara manual mulainya zat meleleh pada suhu 138oC dan meleleh sempurna pada suhu 142oC. Dikarenakan sampel glukosa titik lelehnya lebih dari 100oC maka menggunakan minyak sayur (menggantikan air). Sedangkan pengukuran menggunakan MPA sebebsar 140oC – 146oC. Sampel ketiga yaitu alpanaftol ketika diukur secara manual titik lelehnya sebesar 94oC - 96oC dan jika diukur menggunakan MPA sebesar 96oC - 98oC. Sampel keempat asam benzoat, diukur secara manual mulai melelhnya 117oC dan melelh seutuhnya sebesar 121oC sedangkan menggunakan MPA 119oC - 121oC. Sampel terakhir yaitu maltosa mulai melelhnya pada suhu 98oC dan meleleh sempurna pada suhu 100oC sedangkan menggunakan MPA sebesar 100oC - 102oC. Disini dapat kita lihat tidak semua pengukuran hasilnya sama baik itu menggunakan MPA atau manual. Pengukuran menggunakan MPA lebih akurat dibandingkan secara manual karena dengan manual praktikan dapat salah dalam mengamati mulai melelehnya suatu sampel sampai meleleh sempurnanya.
    Percobaan berikutnya yaitu kami mengukur titik leleh dari suatu zat campuran dengan menggunakan berbagai perbandingan yaitu 1:0 ; 1:0,5 ; 1:1 ; 1:2. Pada percobaan mengukur perbandingan zat campuran ini kami mengukur titik lelehnya secara manual dikarenakan pada saat kmi praktikum listrik mati sehingga tidak dapat menggunakan MPA. Dapat kita lihat di data pengamatan hasil-hasil yang kami dpatkan untuk pengukuran zat campuran ini. Misalnya pada campuran glukosa-alphanaftol pada saat menggunakan perbandingan 1:0 yang artinya disini hanya menggunakan glukosa saja dan diukur titik lelehnya maka didapat 140 – 146oC. Pada perbandingan 1:0,5 dimana sampel glukosa yang digunakan lebih banyak dibanting alphanaftol atau berarti alphanaftol yang digunakan hanya setengah dari glukosa dan didapat suhunya sebesar 150 – 165oC. Pada perbandingan 1:1 yang berarti sampel glukosa dan alphanaftol yang digunakan sama banyak dan didapat suhu titik lelehnya sebesar 145 – 168. Pada perbandingan terakhir 1:2 titik leleh dari campuran ini yaitu 145 – 170oC. Disini dapat kita amati semakin besar perbandingan yang digunakan maka semakin besar rentang suhunya. Ada berbagai faktor yang mempengaruhu kecepatan titik leleh salah satunya adalah ukuran kristal, apabila semakin banyak/besar ukuran kristal yang digunaka maka akan semakin lama zat akan meleleh. Kemudian banyak smapel, semakin sedikit sampel yang digunakan maka akan semakin cepat proses pelelehan dan begitu juga sebaliknya.

IX. Pertanyaan Pasca
  1. Mengapa pada saat mengukur air yang sedang dipanaskan ketika dimasukkan termometer, termometernya tidak boleh menyentuh dasar permukaan labu erlenmeyer?
  2.  Mengapa pada saat pengukuran suhu es dan air didalam erlenmeyer harus disumbat ujung dari erlenmeyernya?
  3. Apa saja faktor yang mempengaruhi titik leleh dari suatu zat?
X. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa:
1.    Titik leleh adalah keadaan saat fase padat dan fase cair dalam keadaan setimbang dibawah tekanan 1 atm.
2.    Kalibrasi bertujuan untuk menguji kemampuan kerja thermometer, baik dalam mengukur batas bawah dan atas skala thermometer.
3.      Pengukuran titik leleh dengan menggunakan MPA (Melting Point Apparatus) akan menunjukkan skala yang lebih akurat dengan sumber skala listrik dan skala suhu panas ditunjukkan oleh sinyal digital.
4.    Faktor yang mempengaruhi rentang titik leleh adalah zat, sifat, dan kekuatan intermolekuler.

XI. Daftar Pustaka
David.2010. kimia analisis kuantitatif. Jakarta: buku kedokteran.
Jamzuri.2016. pembuatan sisten akuisisi data pengukur suhu menggunakanlabview interface for arduino (LIFA). Jurnal materi dan pembelajaran fisika. Vol 6 No 1 ISSN:2089-6158.
Susanti. 2014. Pengembangan sistem kalibrasi termometer radiasi 250oC-1000oC. Vol 3.
Tim kimia organik 1. 2016. Penuntun praktikum kimia organik 1. Jambi: Universitas Jambi.

XII. Lampiran
Pengujian titik leleh mneggunkana MPA
(Melting Point Apparatus)

Kalibrasi termometer dengan water bolt
Untuk penentuan skala atas termometer

Kalibrasi termometer dengan air dan es
Untuk penentuan skala bawah termometer

sampel telah sampai pada titik
lelehnya

Pengikatan sampel pada termometer






Rabu, 20 Maret 2019

Jurnal (percobaan 5) Reaksi-Reaksi Aldehida dan Keton



PERCOBAAN 5

I.         Judul Praktikum
“Reaksi-Reaksi Aldehida dan Keton”

II.      Hari / Tanggal Praktikum
Sabtu / 23 Maret 2019

III.   Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu:
a.       Dapat memahami azas-azas reaksi senyawa karbonil
b.      Dapat memahami perbedaan reaksi antara aldehid dan keton
c.    Dapat menjelaskan jenis-jenis pengujian kimia sederhana yang dapat membedakan aldehid dan keton

IV.   Landasan Teori 
            Senyawa organik aldehid dan keton merupakan molekul polar, yang menyebabkan aldehid dan keton polar ialah gugus karbonil yang terdapat pada senyawa ini yang juga menyebabkan terjadinya dipol-dipol diantara ikatan rangkap karbon dan oksigen. Dikarenakan aldehid tidak dapat mendonasika proton yang dimilikji oleh hidrogen, maka titik didih dari aldehid lebih rendah dibandingkan alkohol meskipun berat molekul dari alkohol hanpir sama dengan yang dimiliki oleh senyawa aldehid dan keton. Begitu juga karena aldehid dan keton memiliki dipol-dipol menyebabkan titik didih dari aldehid dan keton lebih tinggi dibandingkan senyawa alkena meskipun berat molekul senyawa alkohol dan aldehid keton sama. Aldehid dan keton merupakan salah satu senyawa yang dapat larut dengan sempurna didalam air, aseton yang merupakan bagian dari keton sendiri juga dpat larut dengan sempurna didalam air maupun senyawa organik, hal ini dikarenakan aldehid dan keton bertindak sebagai akseptor ikatan hidrogen (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/03/20/reaksi-reaksi-aldehid-dan-keton198/).
Aldehid dan keton merupakan salah satu dari banyaknya senyawa organik yang memiliki gugus karbonil. Pada gugus karbonil ini merupakan gugus yang sangat menentukan sifat kimia dari aldehid dan keton. Oleh karena itu kebanyakan sifat-sifat kimia dari aldehid dan keton mirip satu sama lain. Aldehid merupakan senyawa organik yang cepat bereaksi dibandingkan dengan keton walaupun menggunakan pereaksi yang sama. Hal tersebut terjadi karena atom karbon karbonil pada aldehid kurang terlindungi dibandingkan keton. Senyawa organik aldehid sangat mudah mengalami reaksi oksidasi yang akan menghasilkan asam karboksilat tapi pada senyawa organik  keton sulit untuk mengalami reaksi oksidasi karena pada oksidasi terjadi pemutusan karbon-karbon menghasilkan dua asam karboksilat dengan jumlah atom karbon masing-masing lebih sedikit dibandingkan keton semula.


Uji Tollen’s merupakan salah satu uji yang digunakan untuk membedakan mana yang termasuk senyawa aldehid dan mana yang termasuk keton. Pereaksi Tollen’s yang biasa digunakan yaitu larutan perak bromida. Jika larutan perak bromida direduksi dengan aldehid maka akan menghasilkan logam perak sedangkan jika dioksidasi akan menghasilkan asam ysb. Dan pada senyawa organik keton sendiri tidak dapat dioksidasi menggunakan pereaksi Tollen’s. Bila pengujian dilakukan dengan menggunakan pereaksi yang ecer maka perak akan mengendap berupa cermin yang terdapat didinding tabung.


           (Tim Kimia Organik 1, 2016).

Dalam kehidupan sehari-hari aldehid dan keton mempunyai banyak sekali kegunaan. Salah satu contohnya yaitu metanal yang merupan contoh dari senyawa aldehid. Pada umumnya metanal lebih dikenal dengan nama formaldehida. Larutan formaldehida setidaknya digunakan sebanyak 40% sebagai antiseptik dan juga digunakan sebagai formalin. Sedangkan untuk keton yang paling banyak dikenal adalah aseton. Aseton sering digunakan sebagai pelarut dan juga dalam kehidupan sehari-hari digunakan sebagai pembersih kaca. Aldehid dan keton merupakan senyawa yang mengandung gugus karbonil. Pada aldehid setiknya mempunyai sedikit satu hidrogen yang terikat pada karbon karbonil. Sedangkan pada keton tidak mempunyai hidrogen yang terikat pada karbonil hanya karbon yang mengandung gugus R (Ismail, 2016).

Aseton adalah senyawa keton yang paling penting dan paling banyak dikenal. Aseton merupakan suatu cairan volatil yang memiliki titik didih 56oC dan aseton sendiri sangat mudah untuk terbakar. Aseton merupakan pelarut yang baik digunakan untuk berbagai senyawa-senyawa organik. Aseton sebagai pelarut sendiri banyak digunakan sebagai pelarut pernis, lak dan plastik. Beberapa jenis pelarut tidak dapat bercampur dengan air tetapi pada aseton sendiri dapat larut atau bercanpur dengan air di berbagai perbandingan baik itu lebih banyak air dibanding aseton ataupun sebaliknya. Aaseton pun juga sering digunakan untuk pengeringan pada alat-alat  praktikum karena sifat dan  volalitasnya. Bila menggunakan aseton untuk membilas alat-alat gelas yang terdapat di laboratorium jika setelah pembilasan terdapat aseton yang menempel pada alat-alat gelas tersebut maka aseton pada alat-alat akan menguap sehingga aman untuk digunakan. Aseton sendiri dapat dibuat dengan menggunakan melalui dehidrogenasi isopropil alkohol dengan bantuan katalis tembaga (suminar, 2016).

Aldehid dan keton memiliki sifat polar, karena sifat polarnya ini keton dan aldehid dapat menarik dipol-dipol antar molekul. Senyawa aldehid dapat mendidih pada suhu atau temperatur yang tinggi dari senyawa-senyawa non polar yang bobot molekulnya bersamaan. Kita ketahui bahwa aldehid dan keton merupakan senyawa organik yang tersusun dari unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen. Senyawa aldehid dan keton sendiri dapat diperoleh melalui oksidasi alkohol dimana untuk senyawa aldehid digunakan alkohol primer dan untuk senyawa keton digunakan alkohol sekumder. Jika terdapat kedua gugus menempel pada gugus-gugus karbonil adalah gugus karbon maka senyawa itu dinamakan keton. Sedangkan jika salah satu dari kedua gugus tersebut adalah hidrogen senyawa tersubut termasuk aldehid (Oxtoby, 2000).

V.      Alat dan Bahan
5.1     Alat
        ·      Tabung reaksi
        ·      Pipet tetes
        ·      Erlenmeyer
        ·      Penangas
        ·      Corong Hirsch
        ·      Corong buncher
        ·      Labu takar 50 mL
        ·      Termometer
        ·      Pengaduk

5.2     Bahan
        ·      Perak nitrat
        ·      NaOH
        ·      Amonium hidroksida
        ·      Benzaldehid
        ·      Aseton
        ·      Sikloheksanon
        ·      Formalin
        ·      Natrium sitrat
        ·      Natrium karbonat
        ·      Larutan CuSO4.5H2O
        ·      Natrium kalium tartrat/Garam Rochelle
        ·      n-heptanadehid
        ·      Larutan NaHSO3 jenuh
        ·      Etanol
        ·      HCl Pekat
        ·      Fenilhidrazin
        ·      Methanol
        ·      2,4-dinitrofenilhidrazin
        ·      Hidroksilamin HCl
        ·      Natrium asetat trihidrat
        ·      Iodium iodide
        ·      Isopropanol
        ·      2-pentanon
        ·      3-pentanon
        ·      Asetaldehid
        ·      Aquadest

VI.   Prosedur kerja
6.1     Uji cermin kaca, Tollens
     Siapkan empat tabung reaksi yang berisi pereaksi Tollens (cara membuat: siapkan tabung reaksi yang bersih sekali, ke dalam 2 ml larutan perak nitrat 5% tambahkan 2 tetes larutan NaOH 5% lalu tambahkan tetes demi tetes sambil diaduk larutan amonium hidraksida 2% hanya secukupnya agar supaya larut- pengujian akan gagal kalau terlalu banyak amonia ditambahkan). Ujilah benzaldehid, aseton, sikloheksanon dan formalin dengan jalan menambahkan masimh-masing 2 tetes bahan tersebut kedalam tabung uji. Aduklah campuran dan diamkan selama 10 menit. Bila reaksi tidak terjadi, panaskan tabung dalam penangas air selama 5 menit. Amatilah apa yang terjadi.

6.2    Uji Fehling dan Benedict
      Kedalam masing-masing dari empat tabung reaksi tambahkan 5 ml pereaksi Benedict (cara membuatnya: larutan 173 gr natrium sitrat dan 100 gr natrium karbonat dalam 750 aquades aduk, saring lalu kedalam filtrat tambahkan perlahan larutan 17,3 gr CuSO4.5H2O dalam 100 ml air, encerkan hingga volum total 1 L) atau 5 ml pereaksi fehling yang masih fresh (cara membuat: larutan A=69 gr CuSO.5H2O dalam 1 L air suling.
      Larutan B=346 gr natrium kalium tartrat atau garam rochelle di dalam larutan NaOH 10%, artinya pereaksi fehling A dan B sama banyak baru di campur. Kedalam masing-masing tabung tambahkan beberapa tets bahan yang akan diuji. Tempatkan tabung reaksi dalam air mendidih selama 10-15 menit. Ujilah formaldehid, n-heptanaldehid, aseton dan sikloheksanon. 

6.3   Adisi Bisulfat
    Masukkan 5 ml larutan NaHSO3 jenuh kedalam erlenmeyer 50 ml dan dinginkan larutan dalam aires. Tambahkan 2,5 ml aseton tetes demi tetes sambil diaduk. Setelah 5 menit tambahkan 10 ml etanol untuk memulai kristalisasi, lalu sring kristal dengan corong Hirsch. Apa yang akan terjadi bila kristal dalam tabung reaksi ditambahkan beberapa tetes HCl pekat.

       6.4  Pengujian dengan Fenilhidrazin
      Kepada 5 ml fenilhidrazin dalam tabung reaksi besar, ditambahkan 10 ml tetes bahan yang akan diuji. Tutup tabung reaksi dengan guncangkan dengan kuat selama 1-2 menit hingga mengkristal. Saring kristal dengan corong Hirsch, cuci dengan sedikit air dingin dan rekristalisasi dengan sedikit methanol dan etanol. Keringkan dan tentukan titik lelehnya. Lakukan pengujian terhadap benzaldehida dan sikloheksanon. Dengan cara yang sama, gunakan 2,4-dinitrofenilhidrazin, buatlah turunan benzaldehid dan sikloheksanon. Tentukan titik lelehnya.

       6.5  Pembuatan Oksim
      Dilarutkan 1 gr hidroksilamin HCL dan 1,5 gr natrium asetat trihidrat di dalam 4 ml air, di dalam Erlenmeyer 50 ml panaskan larutan sampai 35, kemudian tambahkan sikloheksanon tutup labu dan goncangkan selama 1-2 menit, pada waktu mana zat padat sikloheksanon-oksim akan terbentuk. Dinginkan labu dalam lemari es, saring kristal dengan corong Hirsch, cuci dengan 2 ml air es, keringkan dan tentukan titik lelehnya.

      6.6  Reaksi Haloform
    Kepada 5 tetes aseton dalam 3 ml larutan NaOH 5%, tambahakan sekitar 10 ml larutan iodium iodide (cara bautnya: larutkan 25 gr iodium di dalam larutan 50 gr kalium iodide dalam 200 ml air) sambil digoncang-goncangkan sampai warna coklat tidak hilang lagi. Iodoform yang berwarna kuning akan mengendap dan baunya yang khas. Pengujian dilakukan terhadap isopropanol, 2-pentanon, dan 3-pentanon.

       6.7  Kondensasi Aldol
a.    Ditambahkan 0,5 ml asetaldehid kepada 4 ml larutan NaOH 1% goncangkan dan catat baunya (sisa asetaldehid). Didihkan campuran reaksi selama  3 menit. Catat hati-hati bau tengik dari kromatonaldehid.
b.    Susunlah peralatan untuk merefluks. Dalam labu 50 ml tempatkan ml etanol, 1 ml aseton, 2 ml benzaldehid dan 5 ml larutan NaOH 5%. Campuran direfluks selama 5 menit. Dinginkan labu dan kumpulkan kristal dengan corong Buchner. Bisa direkristalisasi dengan etanol. Tentukan titik lelehnya.


Link vidio
https://www.youtube.com/watch?v=zd50ddGdht8&t=66s

Pertanyaan:
  1. Apa yang harus dilakukan jika campuran sampel dengan reagen tollens tidak menghasilkan reaksi?
  2. Pada vidio diatas apa yang terjadi saat formalin dicampurkan dengan pereaksi fehling dan termasuk senyawa aldehid atau ketonkah formalin tersebut!
  3. Apa yang terjadi ketika campuran senyawa X dengan fehling dipanaskan menggunakan penangas air?











Sabtu, 16 Maret 2019

Jurnal (percobaan 4) Reaksi-Reaksi Hidrokarbon



PERCOBAAN 4


I.          Judul Praktikum
“Reaksi-Reaksi Hidrokarbon”

II.       Hari / Tanggal Praktikum
 Minggu / 17 Maret 2019

III.     Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu:
a.  Dapat mengetahui perbedaan sifat fisika-kimia hidrokarbon alifatik jenuh dan tak jenuh dalam aromatik
b. Dapat mengetahui jenis reaksi kimia untuk membedakan ketiga golongan senyawa hidrokarbon
c.   Dapat mengetahui cara dan teknik pengujian ketiga golongan senyawa hidrokarbon

IV.    Landasan Teori
             Alkana, alkena dan alkuna merupakan bagian dari hidrokarbon yang pada dasarnya senyawa-senyawanya hanya tersusun atas atom karbon hidrogen. Dalam kehidupan sehari-hari senyawa hidrogen sering kita gunakan untuk memasak ataupun digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor dan juga sebagai bahan bakar baik berupa gas, bensin ataupun minyak tanah. Pada kehidupan sehari-hari senyawa hidrokarbon biasanya terjadi pembakaran sempurna maupun tidak sempurna. Suatu reaksi hidrokarbon juga dapat bereaksi dengan bantuan sebuah katalis seperti alumunium klorida. Dengan menggunakan katalis alumunium klorida pada reaksi hidrokarbon dapat menyebabkan berubahnya senyawa hidrokarbon yang dari rantai lurus menjadi bercabang (isomerisasi). Pada reaksi hidrokarbon tidak hanya bisa terjadi reaksi isomerisasi tetapi juga dapat terjadi khlorinasi dan brominasi. Suatu senyawa hidrogen dapat berubah menjadi alkil halida dengan melalui khorinasi / brominasi yang harus dilakukan dibawah sinar UV atau dapat direaksikan pada suhu 450oC (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/01/21/reaksi-reaksi-hidrokarbon/).

        Suatu senyawa organik yang hanya memiliki atom karbon (C) dan hidrogen (H) merupakan bagian dari senyawa hidrokarbon. Berdasarkan strukturnya senyawa hidrokarbon dapat dibagi dalam beberapa jenis seperti hidrogen alifatik, sedangkan hidrogen alifatik dapat dibagi menjadi 3 jenis yaitu hidrokarbon jenuh (suatu senyawa alkana yang mengandung ikatan-ikatan tunggal), hidrokarbon tidak jenuh (senyawa alkena dan alkuna yang masing-masing senyawanya  mempunyai ikatan rangkap dua atau tiga), dan hidrokarbon aromatik (suatu senyawa lingkar yang strukturnya berkaitan dengan benzena dan mengandung enam elektron pi, dan pada satu lingkarnya mengandung enam atom). Alkana tidak dapat bereaksi sama sekali atau hanya dapat bereaksi secara lambat terutama dengan brom pada suhu kamar dan pada keadaan gelap (tidak disinari cahaya), tetapi alkana dapat bereaksi dengan cepat apabila disinari cahaya atau terkena cahaya. Sedangkan pada alkena sangat mudah bereaksi dengan brom dan reaksinya tidak memerlukan cahaya. Akan tetapi alkena jika direaksikan dengan kalium permanganat dalam suasana netral atau alkali dia akan bereaksi secara lamban. Perubahan warna yang terjadi dapat digunakan untuk pengujian ikatan rangkap dengan catatan molekulnya tidak mengandung gugus lain yang mudah menjalankan oksidasi (Tim Kimia Organik 1, 2016).

      Golongan khusus senyawa siklik yang biasanya digunakan sebagai lingkar enam dengan ikatan tunggal dan ikatam rangkap bersilih ganti disebut hidrokarbon aromatik.. Kelompok ini digolongkan terpisah dari hidrokarbon asiklik dan alifatik karena sifat fisika dan kimianya yang khas. Sebagai hidrokarbon jenuh semua atom karbon dalam alkana mempunyai empat ikatan tunggal dan tidak ada pasangan elektron bebas. Semua elektron terikat kuat oleh kedua atom, akibatnya senyawa ini cukup stabil dan kurang reaktif. Alkanaa memiliki rumus CnH2n+2, dimana n adalah bilangan asli yang menyataka jumlah atom karbon. Alkana juga sering disebut sebagai senyawa alifatik hal ini dikarenakan lemak lemak hewani mengandung rantai panjang yang mirip dengan alkana. Untuk senyawa hidrokarbon yang memiliki ikatan rangkap karbon merupakan senyawa alkena. Alkena banyak terdapat di alam dalam jumlah berlebih. Contohnya etilena merupakan hormon tanaman yang memacu pematangan buah (Sumardjo, 2009).

      Selain hewan dan tumbuhan senyawa kompleks hidrokarbon juga terdapat pada  gula amilum, protein, glukosida, antibiotik, lemak, minyak dan lain-lain. Minyak bumi merupakan campuran dari senyawa-senyawa karbon terutama hidrokarbon. Reaktivitas kimia berdasarkan jenis hidrokarbon terdiri dari jenuh, tak jenuh dan aromatik. Alkana merupakan senyawa hidrokarbon yang paling sederhana karena alkana merupakan hidrokarbon yang memiliki ikatan kovalen tunggal. Sedangkan pada alkana sendiri molekul yang paling sederhana adalah metana. Hidrokarbon sendiri dapat dibagi-bagi menjadi beberapa bagian berdasarkan ikatannya. Untuk hidrokarbon yang hanya memiliki satu ikatan saja termasuk jenuh. Sedangkan untuk hidrokarbon yang memiliki ikatan rangkap dua ataupun tiga termasuk dari bagian hidrokarbon tak jenuh (Fessenden, 1997).

      Untuk senyawa hidrokarbon alifatik, atom karbon pada hidrokarbon ini dapat saling mengikat baik dalam bentuk rantai lurus, bercabang, alisiklik, ikatan tunggal dan bahkan ganda dan tiga ikatan kovalen. Senyawa alifatik sendiri berasal dari minyak bumi dan pada umumnya senyawa hidrokarbon alifatik ini sangat mudah terbakar di udara. sedangkan untuk hidrokarbon aromatik sendiri berasal dari batu bara. Dan salah satu perbedaan hidrokarbon alifatik dengan aromatik ini terletak pada gugus fenil. Untuk senyawa aromatik memiliki gugus fenil sedangkan pada alifatik tidak. Untuk hidrakarbon alifatk dan hidrokarbon aromatik memiliki tiga sifat umum yaitu senyawa ini tidak larut dalam air, lebih ringan dibanding air dan pada senyawa ini mudah untuk terbakar di udara. Pada persenyawaan hidrokarbon umumnya semuanya bersifat non polar sehingga menyebabkan ikatan-ikatan antar molekulnya sangat lemah. Oleh sebab itu untuk ikatan hidrokarbon yang memiliki ikatan molekulnya rendah akan berbentuk gas. Dikarenakan hidrokarbon bersifat non polar maka akan mudah larut dengan pelarut-pelarut berpolarisasi rendah seperti, karbotetraklorida, klorofom, benzena dan eter (Wilbraham, 1992).

V.       Alat dan Bahan
5.1     Alat
·      Tabung reaksi
·      Pipet tetes
·      Kertas lakmus
·      Gelas piala
·      Bunsen
·      Kaki tiga
·      Kasa

5.2     Bahan
·      Alkana
·      Brom/CCl4
·      Sikloheksena (alkena)
·      Benzena
·      Potongan besi
·      Aquades
·      Kalium permanganat (0,5%)
·      Asam sulfat pekat
·      Asam nitrat pekat
·      Es

VI.    Prosedur kerja
6.1 Brom dalam karbon tetraklorida
a.  Kedalam tabung reaksi yang masing-masing berisi 1 ml alkana, tambahkan 10-15 tetes brom/CCl4. Setelah diguncangkan tempatkan tabung yang satu dalam tempat yang gelap (lemari) dan tabung yang lain disinari matahari atau lampu pijar selama beberapa menit. Bandingkan kedua tabung. Tiup masing-masing mulut tabung untuk mengenal hidrogen bromida yang akan menimbulkan asap bila ada hidrogen bromida. Hidrogen bromida dapat pula diuji dengan cara memegang sehelai kertas lakmus yang lembab pada mulut masing-masing tabung reaksi.
b.  Kedalam suatu tabung reaksi yang berisi 1 ml sikloheksana (alkena) tambahkan 10-15 tetes  brom/CCl4, goncangkan tabung dan amati hasilnya. Uji bagi kemungkinan adanya pengeluaran hidrogen bromida.
c.  Kedalam suatu tabung reaksi yang berisi 1 ml benzena tambahkan 1 ml brom dalam karbon tetraklorida. Setelah digoncang amati hasilnya.

6.2   Brom
Tempatkan 1 ml benzena kedalam suatu tabung reaksi. Kedalam tabung reaksi yang lain tambahkan beberapa potongan besi kemudian 1 ml benzena, gunakan benzena ini untuk menurunkan potongan besi yang menempel pada dinding tabung. Kapada masing-masing tabung tambahkan 3 tetes brom (dari suatu buret didalam lemari asam). Tempatkan masing-masing tabung didalam gelas piala yang berisi air panas (50oC) selama 15 menit. Amati warna masing-masing tabung. Apakah ada atau tidak hidrogen bromida di bebaskan dan catat hasil-hasilnya.

6.3   Larutan kalium permanganat
Kedalam dua tabung reaksi masing-masing berisi 1 ml larutan kalium permanganat (0,5%) tambahkan 5 tetes alkana ke tabung yang satu dan 5 tetes sikloheksana ke tabung yang lain. Goyangkan masing-masing tabung dengan baik selama 1-2 menit dan catat hasilnya. Kedalam tabung reaksi ketiga yang berisi 1 ml benzena tambahkan 2 ml larutan kalium permanganat, goncang dengan baik dan amati hasilnya.

6.4   Asam sulfat pekat
Tempatkan masing-masing 2 ml asam sulfat pekat kedalam dua tabung reaksi. Kepada tabung yang satu tambahkan 10 tetes alkana, dan kepada tabung yang lain tambahkan 10 tetes sikloheksana. Goncangkan masing-masing tabung dengan baik dan catat hasil-hasilnya. (awas hidarkan agar asam tidak mengenai kulit dan baju). Buang isi masing-masing tabung kedalam satu gelas kimia yang berisi air sedikitnya 50 ml.

6.5    Asam nitrat
Kerjakanlah percobaan berikut ini dalam lemari asam. Campurkan 0,5 ml benzena dan 4 ml asam nitrat pekat didalam satu tabung reaksi yang besar, tambahkan 1 butir batu didih dan didihkan campuran perlahan-lahan selama 2 menit atau sampai menghasilkan suatu kelarutan yang homogen. Perhatikan betul agar pendidihan berlangsung perlahan-lahan, jika tidak demikian benzena akan mendidih keluar mulut tabung dan terbakar. Tuangkan larutan kedalam suatu gelas piala yang berisi 5-10 gram es. Catatlah bau dari cairan yang memisah dan bandingkan dengan bau daripada nitrobenzena yang terdapat dilemari.


6.6 Bahan tak dikenal
    Minta kepada asisten senyawa yang tak dikenal dan tentukanlah apakah senyawa tersebut senyawa tak jenuh, jenuh atau aromatik.

link vidio
https://www.youtube.com/watch?v=corK32rU-84

Pertanyaan:
1. Pada vidio tersebut apa fungsi dari penambahan KmnO4 pada sampel?
2. Pada senyawa hidrokarbon apa yang menyebabkan karbon istimewa?
3. Dari beberapa sampel yang diuji pada vidio tersebut mana saja sampel yang termasuk hidrokarbon tak jenuh, jenuh dan aromatik?